TRADISI MANGAIN SEBELUM PERNIKAHAN PADA MASYARAKAT BATAK TOBA (Studi Kasus Di Desa Sungai Jaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau)
DOI:
https://doi.org/10.24260/al-usroh.v5i2.5157Kata Kunci:
Mangain, Hukum Islam, Urf, Masyarakat Batak Toba, Sungai JamanAbstrak
The tradition of Mangain (raising children), also means accepting someone foreign (not of the Batak tribe) to be like our own biological children by bearing a clan according to the Mangain clan. This research aims to find out: The procession of implementing the mangain custom before marriage in the Toba Batak community in Sungai Jaman Village, Tayan Hilir District, Sanggau Regency and Analysis of the implementation of the mangain tradition before marriage among the Batak Toba community in Sungai Jaman Village, Tayan Hilir Subdistrict, Sanggau Regency.This study uses a qualitative approach with descriptive and juridical-empirical methods. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews with informants who were raja parhata (program guides) and several Toba Batak communities, as well as through documentation studies. Data were analyzed through data reduction, data presentation, verification, and conclusion drawing. Data validity was obtained through member check techniques by involving informants in validating data results. Based on the analysis conducted, the researcher concluded that: 1) the mangain tradition has several stages, namely: manghatai dohot par hula-hula (telling and asking the wife's family), pasada tahi (deliberation and consensus), mangain customary events (raising children), giving tudu sipanganon (food offerings), giving batu sipanganon (witness money), manulangi (feeding), sowing rice sipihir tondi (soul strengthener); 2). The mangain tradition practiced by the people of Sungai Jaman Village is classified as a unique al-urf or urf because it is only practiced by people in certain areas. The mangain tradition is also classified as urf shahih because it embodies a sense of kinship, maintains ties of friendship, and promotes religious tolerance.
Referensi
Aripin, Musa. “Eksistensi Urf dalam Kompilasi Hukum Islam.” Al-Maqasid 2 (2016).
Fariqoini, Azimatul, dan Siti Maryam Qurotul Aini. “kedudukan Urf dalam Hukum Islam.” Jas Merah, Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah 3, no. 1 (2023).
Henani, Yudista Meli, Berchah Pitoewas, dan Yunisca Nurmalisa. “The Public Perception Was Batak Toba About The Wedding Mangain ( Raised ) Marga.” jurnal Kultur Demokrasi (JKD) vol 4, no 6 (2016).
Hutauruk, Loren Rumia, dan Rosnidar Sembiring. analisis pemberian Marga pada nama melalui proses Mangain kepada Suku di luar Batak Toba. t.t.
Kaloko, Indah Sahmauli Indriyani. Tradisi Mangain: Pemberian Marga Bagi Non-Batak di Desa Lingga Tengah Kabupaten Dairi. 2, no. 1 (2024).
Nahdhiyyah, Husnun. “Fenomena Pesta Pernikahan Adat Dayak di Tengah Keragaman Beragama.” Al-Hukama’ 11, no. 1 (2021): 1–25.
Purba, Niceria Nicasia, dan Sulis Mariyanti. perbedaan jenis komitmen pernikahan antara suami dan istri yang telah menjalani pernikahan di atas lima tahun. 1 (2020).
putra, eka. “Adat dan Syara.” Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012) (Juni 2012).
Rofiq, Ainur. “Tradisi Slametan Jawa dalam Perpektif Pendidikan Islam.” Jurnal Ilmu Pendidikan Islam 15 (Agustus 2019).
Salim, Munir. “Bhinneka Tunggal Ika sebagai perwujudan Ikatan Adat-Adat Masyarakat Adat Nusantara.” Al Daulah : Jurnal Hukum Pidana dan Ketatanegaraan 6, no. 1 (2017): 65–74.
Sianturi, Lolanri Veronika, Masniar H Sitorus, Maringan Sinambela, dan Martua Sihaloho. “Persepsi Masyarakat Batak Toba terhadap proses Mangain Boru (Mengangkat) Marga Dalam Pernikahan Adat Batak Toba Di Desa Lae Parira Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara.” JISA: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama Vol.7, No.2 (2024).
Sinaga, Agnes Herlina, dan Nilda Elfemi. Makna Tradisi Mangain Sebelum Acara Pernikahan pada Masyarakat Batak Toba di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar. 5 (2021).
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. 2, cet 29 ed. Alfabeta, 2022.
sulianto, agus, marluwi marluwi, dan sa’dullah muzammil. “Tradisi Fenok-Fenok dan Meleng Mandre Laleng Bocok pada Pernikahan Suku Bugis menurut Tokoh Agama Islam Teluk Pakedai Dua.” Al-Usroh: Jurnal Hukum Islam dan Hukum Keluarga Vol. 2 No. 2 (November 2022).
Sulung, Undari, dan Mohamad Muspawi. “memahami sumber data penelitian : Primer, Sekunder, dan Tersier.” Jurnal Edu Research Indonesian Institute For Corporate Learning And Studies (IICLS) 5 (2024).
Yoseva, Lanny, dan Nunung Rodliyah. Analisis Hukum Pelaksanaan Pengangkatan Anak (Mangain) Menurut Hukum Adat Batak Toba di Desa Narumonda V Kecamatan Siantar Narumonda Kabupaten Toba Sumatra Utara. 1, no. 02 (t.t.).
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Hamid Ariansyah Tambunan, Marluwi Marluwi, Ishar Pulungan

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.


_.png)


.png)
.jpg)




.png)
.png)