Makna Bakhil Dalam Al-Quran: Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce
DOI:
https://doi.org/10.24260/mafatih.v6i1.6400Keywords:
Bakhil, Semiotic, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Qur'anAbstract
This study examines the various meanings of bakhil (miserliness) in the Qur'an using Charles Sanders Peirce's semiotic approach. Although Islam strongly emphasizes generosity, the reality of modern society is still characterized by diseases of the heart, such as miserliness and individualism. Previous studies have generally examined the nature of miserliness purely through a conventional thematic exegesis (maudhu'i) approach without utilizing a linguistic-semiotic analytical tool. Therefore, this research aims to uncover the depth of the philosophical and sociological meanings of the term bakhil through Peirce's triadic model (representamen, object, and interpretant). This is a qualitative research employing a library research method. The results show that the root word of bakhil is mentioned 12 times in the Qur'an. Through Peirce's semiotic analysis, bakhil encompasses a broad interpretation and is not solely defined as withholding wealth; it also includes refusing to pay zakat, concealing knowledge, acting as a sign of hypocrisy, possessing an excessive love for the worldly life that breeds envy, and manifesting arrogance by feeling self-sufficient without the help of Allah. Thus, this study positions itself as complementary to previous exegetical studies by offering a new paradigm in contemporary maudhu'i exegesis methodology. The main contribution of this study is the utilization of semiotics not merely as a linguistic analytical tool, but as a hermeneutic framework to expand the scope of interpreting moral verses (ayat al-akhlaq). This approach proves that the interpretation of miserliness in the Qur'an is dynamic and will continue to be relevant when contextualized to respond to the social pathologies of modern society.
Penelitian ini mengkaji ragam makna bakhil (kikir) di dalam Al-Qur'an dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Meskipun Islam sangat menekankan kedermawanan, realitas masyarakat modern saat ini masih diwarnai oleh penyakit hati berupa sifat kikir dan individualisme. Penelitian-penelitian terdahulu umumnya mengkaji sifat kikir murni dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) konvensional tanpa menggunakan pisau bedah linguistik-semiotik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membongkar kedalaman makna filosofis dan sosiologis dari term bakhil melalui model triadik Peirce (representamen, objek, dan interpretan). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar kata bakhil disebutkan sebanyak 12 kali dalam Al-Qur'an. Melalui analisis semiotika Peirce, bakhil memiliki interpretasi yang luas dan tidak hanya dimaknai sebatas menahan harta, melainkan juga menolak membayar zakat, menyembunyikan ilmu, tanda kemunafikan, kecintaan berlebih pada dunia yang melahirkan kedengkian, hingga wujud kesombongan merasa cukup tanpa pertolongan Allah. Dengan demikian, penelitian ini memosisikan diri sebagai komplementer bagi kajian-kajian tafsir terdahulu dengan menawarkan paradigma baru dalam metodologi tafsir maudhu'i kontemporer. Kontribusi utama dari studi ini adalah pemanfaatan semiotika tidak sekadar sebagai alat analisis bahasa, melainkan sebagai kerangka hermeneutis untuk memperluas jangkauan tafsir ayat-ayat akhlak. Pendekatan ini membuktikan bahwa pemaknaan sifat kikir dalam Al-Qur'an bersifat dinamis dan akan terus relevan untuk dikontekstualisasikan dalam merespons patologi sosial masyarakat modern.
References
DAFTAR PUSTAKA
Addini, N. F., Iqbal, I. M., & Ridho, M. M. (2024). Kikir dalam Al-Qur’an (Kajian Lafadz Al-Bukhl dan Asy-Syuhh Menurut Tafsîr Fii Zhilalil Qur’an). Hamalatul Qur’an: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, 5(2), 275–285.
Al-Aṣfahānī, R. (2009). Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān. Dār al-Qalam.
Al-Baidhawi, N. (1313). Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil. Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi.
Al-Baqi, M. F. (n.d.). Mu’jam al-Mufahras li al-Fazi al-Qur’a al-Karim. Dar al al-Fikr.
Al-Qurthubi. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Quran: Vol. 1,3,4,6,7 (A. at-Turki (ed.)). Al-Resalah.
Al-Razi, F. (1977). Mafātīḥ al-Ghaib. Maktabah Dar al-Fikr.
Al-Zamakhsyari. (1995). Al-Kasysyaf ’an Haqa’iq al-Tanzil wa ’Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil, Jilid I. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Arif, M., & Muliadi. (2025). Hubungan Antara Semiotika dan Tafsir: Analisis Tanda dalam Al Quran sebagai Bentuk Penyampaian Wahyu. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 23221–23227.
Asyur, M. T. I. (1997). Tafsir at-Tahrir wa al-Tanwir. Dar Sahnun li al-Nasyr wa al-Tawzi’.
Ath-Thabari, A. J. M. bin J. (1992). Jami’ al-Bayan ’an Ta’wil Ay al-Qur’an. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Baihaqi, N. N. (2021). Makna Salām Dalam Al-Qur’an (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce). Taqaddumi: Journal of Quran and Hadith Studies, 1(1), 1–24.
Darmalaksana, W. (2020). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 1–6.
Darmalaksana, W. (2022). Panduan Penulisan Skripsi & Tugas Akhir. TESLA: Jurnal Teknik Elektro, 21(1), 1.
Fadhilah, N. (2024). Variasi Makna Nūr dalam Al-Qur’an (Trichotomy Relations Charles Sanders Peirce). Jurnal Al-Qolamuna: Jurnal Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 1(4), 248–261.
Fitria, N. I. (2024). Makna Ummi dalam Al-Qur’an: Analisis Teori Semiotika Charles Sanders Peirce. Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 4(1), 522–544.
Group, F. (2024). Fihris Juzur Kalimat Al-Qur’an. In Al-Bahith Al-Qurani. https://tafsir.app/quran-roots
Gultom, S. N., & Rambe, W. A. (2023). Menggapai Ridho Allah Swt Dengan Menghindari Kikir (Isi Kandungan QS. Al-Lail [92]: 8-11). Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat (JURRAFI), 2(2), 29–37.
Hasibuan, K. H. (2025). Analisis Semantik Kata Yang Bermakna Kikir Dalam Al-Qur’an. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Ibn Faris, A. (2002). Mu’jam Maqayis Al-Lughah. Dar Ittihad al-Kuttab al-’Arabi.
Ibnu Katsir, A. A.-F. I. (2006). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim. Darul Kutub Ilmiyah.
Jabal, M. H. H. (2010). Al-Mu’jam Al-Isytiqaqi Al-Mu’ashshal li Alfazh Al-Qur’an Al-Karim. Maktabah Al-Adab.
Kementerian Pendidikan Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, K. (2026). kikir. In Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://kbbi.web.id/kikir
Khairunnisa, N., Sihombing, M. S., Mawarni, C., & Sinaga, C. (2025). Analisis Sistem Tanda di Ramayana Teladan Medan: Kajian Semiotik Charles Sanders Peirce. Fonologi: Jurnal Ilmuan Bahasa Dan Sastra Inggris, 3(2), 184–195.
Manzhur, I. (2005). Lisan al-Arab. Dar al-Fikr.
Prabowo, Y. (2022). Memahami Makna Bakhil Dalam Al-Quran Dan Hadis. Anwarul: Jurnal Pendidikan Dan Dakwah, 2(5), 438–456.
Qutb, S. (1978). Fī Zhilāl al-Qur’ān Jilid 11. Dār asy-Syurūq.
Rizal, T. M., & Sari, M. (2022). Makna Nisyan dalam Al-Qur’an Kajian Semiotika Charles Sanders Pierce. Revelatia: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 3(1), 1–17.
Sari, L. I. (2024). Makna Sabar Dalam Al-Qur’an (Analisis Semiotika Charles Sandres Peirce). Al-Afkar, Journal For Islamic Studies, 7(4), 205–223.
Wahbah Az-Zuhaili. (1991). at-Tafsir al-Munir: fi Aqidah wa as-Syari’ah wa al-Manhaj. Dar al-Qalam.
Zufriyatun, Baharuddin, R., Santi, N., & Meliza. (2023). Kikir Dalam Al-Qur’an Menurut Wahbah Az-Zuhaili Dalam Tafsir Al-Munir. Statement, 13(1), 60–70.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Ziyad Saevwa Rabbany

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.












