Dinamika Penafsiran Al-Qur’an: Analisis Epistemologis terhadap Pergeseran Otoritas Tafsir dari Era Klasik ke Era Digital

Authors

  • Akhmad Mughni Khoiruddin Institut Agama Islam Faqih Asy'ari, Kediri
  • Zakia Aini Minka Institut Agama Islam Faqih Asy'ari, Kediri
  • Faisal Diaulhaq Institut Agama Islam Faqih Asy'ari, Kediri

DOI:

https://doi.org/10.24260/mafatih.v6i2.6403

Keywords:

Qur’anic exegesis, epistemology of tafsir, religious authority, digital religion, digital tafsir

Abstract

he rapid development of digital technology has transformed the production, dissemination, and reception of Qur’anic interpretation, leading to a significant shift in the structure of interpretive authority. This study aims to examine the epistemological dynamics underlying the transition of tafsir authority from the classical era to the digital age. Employing a qualitative library research method, the study analyzes classical works on the qualifications and authority of mufassirs alongside contemporary literature on digital religion, online religious authority, and digital tafsir. The findings reveal that classical interpretive authority was established through scholarly competence, sanad, mastery of Qur’anic sciences, and institutional recognition within the scholarly tradition. In contrast, the digital era has facilitated the emergence of new authorities whose legitimacy is increasingly shaped by accessibility, audience engagement, media visibility, and algorithmic dissemination. This transformation has expanded public access to Qur’anic knowledge and encouraged interpretive pluralism, yet it has also generated challenges related to authority fragmentation, methodological simplification, and the circulation of unverified interpretations. The study concludes that the shift in tafsir authority reflects a broader epistemological transformation in Islamic knowledge production, requiring a renewed framework that integrates classical scholarly standards with the realities of contemporary digital environments. By systematically mapping this shift in the sources of tafsir legitimacy—from a model grounded in sanad and scholarly competence to one shaped by digital logic and algorithms—this study offers a novel epistemological contribution to the growing field of digital-era Qur’anic studies.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara produksi, distribusi, dan penerimaan penafsiran Al-Qur’an sehingga memunculkan pergeseran signifikan dalam struktur otoritas tafsir. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika epistemologis yang melatarbelakangi pergeseran otoritas tafsir dari era klasik menuju era digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menganalisis literatur klasik mengenai syarat dan otoritas mufasir serta kajian kontemporer tentang agama digital, otoritas keagamaan daring, dan tafsir digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas tafsir pada era klasik dibangun melalui kompetensi keilmuan, sanad, penguasaan ulum al-Qur’an, serta pengakuan institusional dalam tradisi keilmuan Islam. Sebaliknya, era digital melahirkan bentuk otoritas baru yang legitimasi dan pengaruhnya semakin ditentukan oleh aksesibilitas informasi, interaksi audiens, visibilitas media, dan mekanisme algoritma platform digital. Transformasi ini memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan Al-Qur’an dan mendorong pluralitas penafsiran, tetapi sekaligus menimbulkan fragmentasi otoritas, penyederhanaan metodologi, serta penyebaran penafsiran yang tidak selalu terverifikasi secara akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pergeseran otoritas tafsir merupakan bagian dari perubahan epistemologis dalam produksi pengetahuan Islam yang menuntut rekonstruksi kerangka otoritas tafsir yang mampu mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dengan karakter ruang digital kontemporer. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemetaan epistemologis yang sistematis atas pergeseran sumber legitimasi otoritas tafsir tersebut, sehingga memberikan kontribusi bagi perkembangan studi Al-Qur’an, khususnya studi Al-Qur’an era digital.

References

Ali, R., & Isnaini, S. N. (2024). Digitising Interpretation: Transforming Tafsir Al-Mishbah in the Context of the Living Quran. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 25(1), 1–23. https://doi.org/10.14421/qh.v25i1.5186

Arifin, M., Maulana, M. Z., & Abdullah. (2025). The Role of Philosophical Hermeneutics in Contextual Qur’anic Exegesis in the Digital Age. Al-Mashadir: Journal of Quranic Sciences and Tafsir, 1(1), 37–46.

Bariyah, M. (2020). Kenali Syarat Menjadi Mufassir. https://tafsiralquran.id/kenali-syarat-menjadi-mufassir/

Budi, S. (2021). Implementasi Syarat-Syarat Mufassir di Era Digital. Al-Mutsla: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Dan Kemasyarakatan, 3(1), 9–20.

Campbell, H. A., & Tsuria, R. (Eds.). (2022). Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media (2nd ed.). Routledge.

Hidayatullah, R. (2024). Otoritas Keagamaan Digital: Pembentukan Otoritas Islam Baru di Ruang Digital. Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin, 10(2), 1–16. https://doi.org/10.15408/ushuluna.v10i2.42831

Khalifah, A. N. (2026). Paul Ricoeur’s Hermeneutical Review of the Discourse on Qur’anic Tafsir in Digital Media. TATHO: International Journal of Islamic Thought and Sciences, 3(1), 1–12. https://doi.org/10.70512/tatho.v3i1.155

Majit, A., & Miski. (2023). Pembelajaran al-Qur’an Secara Digital: Pergeseran Sistem Isnad dan Peneguhan Otoritas Baru. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, Dan Tradisi), 9(1), 133–147. https://doi.org/10.18784/smart.v9i1.1795

Muslikhun, & Khaldun, I. (2025). Hermeneutika Digital Al-Qur’an dan Budaya Lokal di Indonesia: Menuju Model Rekonsiliasi antara Pemurnian dan Pelestarian. Journal of Islamic Studies and Humanities, 10(1), 31–52. https://doi.org/10.21580/jish.v10i1.27149

Salma, Y., Kamilah, Z., Kamil, A. Z., Iwanebel, F. Y., & Maulana, M. I. (2025). Narrative Hermeneutics as Digital Tafsir: Reconstructing Qur’anic Meaning and Religious Authority on Instagram @NadirsyahHosen_Official. Jurnal Lektur Keagamaan, 23(2), 733–772. https://doi.org/10.31291/jlka.v23i2.1492

Saputra, E., & Fadhli, F. (2020). Media Baru, Fragmentasi dan Kontestasi Otoritas Keagamaan di Aceh: Dari Ulama Lokal ke Ustaz. Jurnal Lektur Keagamaan, 18(2), 429–462. https://doi.org/10.31291/jlk.v18i2.806

Whyte, S. A. (2022). Islamic Religious Authority in Cyberspace: A Qualitative Study of Muslim Religious Actors in Australia. Religions, 13(1), 69. https://doi.org/10.3390/rel13010069

Yusuf HM, M., & Satra, M. (2024). Kajian Tafsir Al-Quran di Era Digital: Literasi dan Pengaruh Teknologi. Jurnal Literasiologi, 12(5), 226–238. https://doi.org/10.47783/literasiologi.v9i4

Downloads

Published

2026-08-22